Konsep Peternakan Rumung (Ruminansia-Unggas) : Sumber Gizi Murah bagi Keluarga


Mungkin saat ini tidak banyak generasi muda saat ini, terutama yang udah mau menikah, memikirkan bagaimana caranya nanti ketika sudah berkeluarga, bisa menyediakan makanan keluarga yang kaya gizi, terutama protein hewani, tanpa harus menyebabkan anggaran harian jadi bengkak. Atau bagaimana caranya, dengan penghasilan pas-pasan bisa setiap hari menyuguhkan telur rebus/goreng sebagai santapan bergizi bagi anak-anak. Sehingga harapan bagi tumbuhnya generasi yang cerdas dan cemerlang (brighter generation) bisa terwujud. Atau mungkin sudah terpikirkan, tapi butuh refrensi alternative bagaimana melakukannya?..sudahkah anda?..

Saya sendiri sih belum berkeluarga (hehe,doakan segera), tapi saya ingin membagi beberapa hasil pengamatan saya tentang bagaimana melakukan semua itu, yang mungkin sebagian orang berpikir nggak mungkin. Saya pribadi berpendapat, itu sangat mungkin. Bagaimanakah caranya? Adalah dengan membuat sebuah peternakan yang kecil namun terintegrasi, saya namakan konsep ini dengan nama Rumung, yaitu konsep peternakan yang mengintegrasikan model peternakan ternak ruminansia (sapi) dengan peternakan unggas (ayam kampung). Dan saya sarankan juga bagi anda, bahwa sebaiknya cari lokasi tempat tinggal di pedesaan, karena bisa lebih leluasa menerapkan konsep ini. Di kota juga bisa, namun harus melihat analisa SWOTnya, memungkinkan apa tidak.
Mengapa harus sapi dan ayam kampung. Pertama kedua jenis hewan ternak ini sudah umum dipelihara masyarakat dan relatif mudah dipelihara. Kedua, bahan pakan kedua jenis ternak ini sangat mudah didapatkan. Ketiga ternak sapi dan ayam bisa hidup berdampingan, bahkan menghasilkan suatu ekosistem yang mutualistik. Keempat, dari ternak ayam kampung bisa didapatkan produk telur dan daging bergizi bagi keluarga, sedangkan sapi bisa menjadi semacam tabungan masa depan keluarga. Kan lebih baik menabung uang dalam bentuk ternak, daripada di bank, apalagi bank Century, hehehe. Artinya melalui kedua jenis ternak ini, kita bisa mengkonversi (bio-konversi) berbagai macam jenis bahan/sampah organik menjadi suatu produk bergizi dan murah untuk dikonsumsi keluarga (from farm to table).
Nah bagaimana melakukannya? Klo yang sudah saya lakukan, saya memelihara sekitar 15 ekor ayam kampung dan satu ekor sapi. Dari satu ekor sapi ini, bisa menghasilkan sekitar 25-30 kg kotoran (faeces), tergantung jumlah konsumsi hariannya. Nah dari kotoran inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan baru bagi ternak ayam. Karena ternyata kotoran sapi ini bisa menjadi sumber munculnya belatung dan cacing tanah. Kedua jenis hewan “menjjikkan” ini mengandung protein kasar minimal 60%, dan setahu saya juga memiliki kecernaan yang sangat tinggi. Tentunya ini menjadi sumber pakan murah yang luar biasa berkualitas untuk mengoptimalkan daya produksi ayam kampung yang saya pelihara. Setidaknya dari kehadiran belatung dan cacing ini, bisa membantu menghemat sekitar 20-30% kebutuhan pakan bergizi bagi ayam. Kalau satu kilogram dedak sekarang seharga Rp.1800,00, dalam sehari butuh sekitar 2 kg dedak untuk 15 ekor ayam. Maka kita bisa hemat Rp. 540,00 (30%) dari pengeluaran untuk membeli dedak. Ayam bisa tumbuh lebih gemuk-sehat dan produktif menghasilkan telur, karena ada imbuhan lebih pakan berprotein tinggi dan kecernaan tiinggi. Belum lagi ditambah kehadiran rayap, pakan hidup berprotein tinggi yang juga sangat disukai oleh ayam. Mutualis ayam terhadap sapi, adalah dengan dipatuknya belatung yang ada di fesesnya, kehadiran penyakit dan lalat bisa ditekan. Klo bagi yang pelihara? Jelas berupa daging ayam, telur ayam kampung dan ternak sapi yang sehat.
Kalau sudah berjalan stabil, anda pasti akan menikmati hasilnya. Sudah tidak perlu lagi ada berita anak kurang gizi, atau keluarga tidak tumbuh dan hidup sehat hanya karena kesulitan menghadirkan makanan bergizi dirumah. Nah, apakah anda tertarik untuk mencoba?..:)


Bangun dari tidur karena sentakan panas Global Warming

Subhanallah...tak terasa, sudah sejak Mei (berarti sekitar 5 bulan) sampai sekarang saya baru mengupdate blog pribadi, yang rata-rata berisi tulisan ga penting ini. Yah, namanya juga amatiran yang masih terus belajar. Kalau kata teman saya, "pokoknya nulis aja, mau bagus kek, mau jelek kek kayak kamu, mau ga berbobot, nggak peduli, yang penting terus nulis dan nulis". Emang betul seh, dan kayaknya untuk membangkitkan semangat menulis saya yang sempat hibernasi selama 5 bulan ini, saya butuh sebuah sengatan. ya, sengatan!, tapi bukan sengatan tawon (akit soale..he he).

Ku Menulis Kembali

Ah, tidak terasa waktu berjalan hampir satu bulan sejak aku selesai penelitian di Batu. Entah mengapa, aku sepertinya mulai malas kembali membuat tulisan-tulisan entah pemikiranku, tulisan saintifik, politik atau sampai hal-hal yang menggelitik. Beberapa hal mengenai bagaimana momen terakhir penelitianku dan perpisahanku dengan sohib-sohib keren di kandang seperti mas Antok, Mas Agung, Pak Saeran, Mas Wiwit, Pak Slamet, Mbah Ri (eh..tapi orangnya rada gimana gitu), Pak Joko dll, momen situasi politik di fakultas yang masih abu-abu, momen ketika saya dan beberapa saudara seperjuangan saya melakukan rekreasi/rihlah ke pantai SendangBiru dan bermain sepuas-puasnya di Pulau Sempu, momen ketika saya secara bertahap namun pasti mengalami degradasi ruhiyah dan akhirnya bisa melakukan upgrade ruhiyah kembali, tulisan mengenai sejarah JAC dan ah masih banyak sekali momen-momen yang seharusnya dapat kurekam dalam tulisan sederhanaku ini. Ah mungkin bukan sekarang waktu yang tepat, tapi aku akan segera merampungkan beberapa hutang tulisanku ini. Bagi teman-teman harap bersabar ya. Insya Allah segera diselesaikan.


Momen bersejarah itu ada disebelah rumahku!


Pukul 06.00 WIB kesibukan beberapa anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di TPS 3 Desa Mojowarno sudah mulai terlihat. Kursi-kursi tunggu untuk para pemilih ditata rapi 2 ber-shaf. Meja-meja dan kursi bagi anggota PPS duduk dan melayani pemilih sudah ditata rapi dibawah pohon rambutanku yang cuma setinggi 3 meter (dari dulu segitu-gitu aja tingginya, he..he..).
Terpal sudah dipasang untuk melindungi diri dari terik sinar matahari yang begitu royal berbagi di Jombang beberapa hari ini. Kotak suara untuk anggota DPR-RI, DPRD Propinsi, DPRD Kabupaten, dan DPD sudah berjajar rapih. Bilik suara juga sudah disiapkan, ada 6 bilik suara berdimensi sekitar 50x60x50 cm dari alumunium yang sudah dijajarkan lengkap dengan alat penanda kartu suara yaitu pulpen warna merah. Kartu suara, lembar DPT, form berita acara, lembar pencatatan suara dan beberapa perangkat lain yang saya lupa sudah ditata rapi dan siap digunakan. Kesimpulannya, TPS 3 di sebelah rumahku (orang tuaku, he..he..) sudah siap untuk melaksanakan momen bersejarah yang bernama Pemilu 2009. All’ve been settled up!.
Para anggota KPPS di TPS 3 antara lain Pak Guru Yanto (ketua), Pak Polo Sunu (anggota), Mbak Ana (anggota), Mbak Naning (anggota), Mas Heni (anggota), dan Mbak Yani (anggota) ditambah lagi dua orang LINMAS/HANSIP yaitu mas Yayok dan Mas Andre memulai kegiatan pemilu dengan melaksanakan apel pagi. Apel (bukan apel batu malang ya, he..he..) pagi itu intinya adalah mengawali kegiatan dengan doa bersama dan pembacaan sumpah sebagai anggota KPPS untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Di dalam rumah, Ibuk juga sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk KPPS, NASI PECEL LAUK AYAM!, hmmm...enyak, he..he...Habis apel, sebagian anggota KPPS langsung sarapan pagi dan sebagian siaga di lokasi untuk menyambut kedatangan peserta pemilu.
Aku sendiri sedikit membantu menata kursi dan kotak suara, alasannya? Mmm, pengen bantu aja, he..he.. Dan para pemilih pun mulai berdatangan. Saat itu sudah pukul 06.30 kalau tidak salah. Berdasarkan keterangan dari Ketua KPPS, jumlah pemilih yang terdata dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) TPS 03 berjumlah 387 orang, minus satu orang, sehingga total ada 386 orang pemilih. Hal yang menarik dalam pemilu kali ini adalah peraturan untuk membubuhkan tanda centang/contreng/cawang pada partai/CAD/DPD pilihan sebagai cara memilih disamping cara mencoblos. Menarik karena ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Menarik karena republik yang baru 11 tahun menikmati era kebebasan reformasi, yang baru memulai kembali pembelajaran demokrasi, yang masih memiliki keterbatasan SDM secara mayoritas sudah berani menerapkan sebuah sistem pemungutan suara yang berbeda ditengah-tengah kehidupan warga yang sudah terbiasa menggunakan cara mencoblos sekurang-kurangnya dalam delapan pemilu terakhir. Dan semakin menarik karena prediksi kesalahan mencontreng yang besar akan menjadi bagian dari irama pemilu kali ini. Wiuuh!, kalau dulu saja pak Nazarudin Syamsuddin (mantan Ketua KPU) menelan pil pahit penjara akibat permasalahan surat suara coblos tembus yang disahkan, lantas bagaimana dengan yang sekarang? Ada potensi masalah apa yang akan muncul dari ’sistem contreng’ kali ini? Wah kayaknya pak Hafidz Anshari harus ’siap-siap’ nih. Hmm..
Pukul 10.30 aku baru ikut antri di TPS. Beberapa teman lama waktu SD nampak, Dayat, Bruno, Zakaria, Udon, dan beberapa orang yang aku ingat wajah tapi lupa namanya (he..he..,sori boys). Proses pemilihan umum di TPS 03 dalam pandanganku berlangsung aman, lancar. Aku tidak melihat di lokasi ada aktivitas yang mengganggu seperti kampanye terselubung, pembagian uang, dan macam-macam aktivitas lain yang dilakukan dalam rangka mengarahkan pemilih untuk memilih calon atau partai tertentu. Tingkah laku beberapa pemilih di bilik suara bermacam-macam, ada yang tenang saja, ada yang bingung, ada yang agak jengkel karena lebarnya surat suara, ada juga yang kesulitan membaca karena beliaunya sudah sangat sepuh. Pas giliranku memilih, aku mengambil 4 jenis surat suara, surat warna kuning untuk memilih CAD DPR-RI, warna hijau untuk memilih CAD DPRD-Propinsi, warna biru untuk CAD DPRD-Kabupaten/Kota, dan warna merah untuk calon anggota DPD. Kubuka surat suara secara berurutan, lalu (dengan nada menyanyi) ”Contreng Pojok Kanan ataS!” he..he...(oops...).
Proses pemilihan diakhiri pukul 12.00 WIB teng!, selanjutnya dilaksanakan break selama 40 menit bagi KPPS untuk shalat dan makan. Kemudian proses penghitungan dilaksanakan hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Aku sendiri lupa bagaimana hasil selengkapnya, yang jelas Partai Demokrat dan PDIP mendapatkan suara mayoritas. Mengenai partai Demokrat yang fenomenal ini saya ingin mengulasnya secara terpisah sambil menunggu hasil akhir penghitungan real count nasional KPU.
Apakah pekerjaan KPPS setelah penghitungan sudah selesai? Ternyata belum! Pasca penghitungan surat suara sah dan tidak sah, panitia KPPS harus melakukan rekapitulasi seluruh surat suara yang digunakan baik yang sah dan tidak sah dan surat suara yang tidak digunakan. Kemudian harus ”melipat” kembali surat suara yang digunakan kemudian dikaretin setiap 50-100 surat suara dan dimasukkan kedalam sebuah amplop yang sudah ditandai. Emm...pekerjaan ini memakan waktu hingga pukul 21.00 WIB. Fiuuh...beberapa panitia KPPS sudah nampak pucat dan kelelahan. Yups, selain ini sebagai pekerjaan (karena toh mereka dibayar), apa yang dilakukan oleh panitia KPPS ini adalah juga bagian dari rangkaian satuan kontribusi kebaikan bagi perubahan negeri ini. Dan semoga kontribusi mereka nantinya tidak menjadi ”sia-sia” akibat penyalahgunaan kekuasaan para penguasa negeri ini.Amin.

Ayo kita Mencontreng


Wah, tidak terasa setelah lebih dari 1 bulan merasakan muaknya iklan, kampanye, sosialisasi atau apalah itu namanya (yang semua demi mendulang suara), akhirnya berakhir juga momen2 itu.
esok tanggal 9 April 2009 adalah hari yang bersejarah bagi bangsa ini. nasib bangsa 5 tahun kedepan ditentukan (maksudnya diikhtiarkan). hitam putih, ijo abang, baik buruk kapal besar bernama Republik Indonesia ini akan ditentukan melalui jutaan "suara rakyat" yang disalurkan melalui kertas suara dari tiap bilik suara di tiap TPS di tiap daerah (hehe..). Meski saya tidak setuju dengan pernyataan "suara rakyat adalah suara Tuhan" karena memang tidak mungkin sama, tetapi saya setuju bahwa bagaimana arah bangsa ini melaju adalah ditentukan oleh suara rakyatnya sendiri. jika yang mayoritas menginginkan partai A yang menang, ya demikianlah nanti negara ini akan diwarnai (mayoritas) oleh kebijakan gaya partai A, apalagi capres yang menang juga dari partai A, hal ini berlaku juga untuk partai B dan seterusnya. Namun bila masyarakat ini (mayoritas) menginginkan untuk tidak memilih alias golput dengan berbagai alasan, dan itu hak mereka juga, maka mungkin memang demikianlah keinginan masyarakat. meski tidak jelas juga, yang golput itu karepnya piye terhadap bangsa ini. Saya sendiri insya Allah akan menggunakan hak suara saya di Pemilu 2009 ini, dan saya tidak menganjurjkan bagi teman-teman siapapun anda yang penting WNI yang sudah berhak (kecuali Polri, TNI, he he) untuk menjadi bagian dari golput. Yah, sebobrok apapun para caleg dan partai yang menjadi kontestan, insya Allah masih bisa dikorek-korek yang masih baik. Ini saya utarakan bukan untuk tendensius pada salah satu partai, tetapi sekadar menyampaikan saran bahwa dengan kita menggunakan hak suara di Pemilu adalah bagian dari menjaga kebebasan kita berdemokrasi itu sendiri, bayangin aja kalau terus-terusan jumlah golputnya meningkat..hmm apa yang akan terjadi ya...(menarik, tapi kok rasanya ngeri juga liat negara jadi collapse karena sudah tidak legitimate, tidak representatif lagi...).hmmff.... ah ya saya ada puisi sebagai penutup tulisan ini (kalau jelek, maklum lah ya..he...he...)

National Election, ur right!

National election will be held
but people live like in hell...
fell down into deep despair...
but we have right to be shared...
use it!, or silent like a sleeping bear!...


Motor Astrea Prima 100 cc kesayanganku

Wah setelah sekian lama mencari inspirasi di tengah pergulatanku dengan sapi-sapi perah yang nakal bin nyebelin karena susunya sedikit melulu produksinya (he..he...sori ya pi..) akhirnya sebuah kejadian yang boleh dibilang tak terlupakan, unik, ngeri, capeee, puegeelll, plus hampir jatuh dari sepede menjadi inspirasi bloggingku kali ini. Ceritanya kumulai dari motorku ini ya.

Yup, sebagai salah satu pemuda desa yang dikirim ke kota untuk menimba ilmu (ciee...) maka untuk mempermudah masalah transportasi, ortuku memfasilitasiku dengan sebuah motor bebek merek Honda (keren kan, he...he...), jenis Astrea Prima kapasitas 100 cc, buatan tahun 1990, no rangka NB19253720, no Mesin NBE1152327 (kira-kira seperti itu yang tertulis di STNK), kondisi mesin mulus, kondisi lain-lain juga mulus (insya Allah). Yaa, klo dibandingin dengan motor-motor temenku yang keluaran terbaru, tampangnya jauh lah, tapi bagiku yang penting fungsional boy,he..he...Dan sepertinya memang jauh lebih baik punya motor bekas kayak punyaku ini daripada punya motor baru, soalnya di Kota Malang masalah curanmor menempati rangking kasus kriminal papan atas, dan motor baru semacam Jupiter Z, Jupiter MX, Supra Fit, Mio dll jadi sasaran paling empuk. Yang ga jadi sasaran empuk ya Honda 800, Astrea Prima, Honda BMW (bebek merah warna), binter, dan sederet motor butut lainnya (kecuali malingnya kepepet betul, baru deh...). Punya motor butut juga punya manfaat lain , yaitu tidak akan ada gadis genit bin centil bin pakaiannya ga sopan (apa lagi gadis muslimah/akhwat, he..he...) berminat untuk dibonceng. Pastinya kan tidak pas, gadis genit kok naiknya motor Astrea Prima 100 cc buatan 1990, gadis genit ya minimal motor-motor baru kayak Honda Vario, Yamaha Mio dll.

Tapi punya motor butut juga punya banyak kelemahan loh, he...he..., kayak motorku ini, masalah busi selalu menjadi masalah no satu, kemudian masalah oli yang terus bocor, dan yang terakhir tenaganya lemah klo dipake untuk daerah tanjakan. nah ini dia sambungannya, saat penelitian kemarin, stok bahan pakan ternakku yang berupa gamblong (gamblong=onggok, limbah tapioka) habis, aku dan temanku terpaksa harus mengambil gamblong ke desa Junrejo, Batu. Lokasinya kira-kira 4 km dari UPT HMT Batu tempat aku penelitian. dan secara geografis, desa Junrejo posisinya lebih rendah dari tempatku penelitian. Problemnya adalah tidak ada mobil bak yang bisa dipinjam, ada truk tapi tak ada yang bisa nyupirin, yang ada hanya 2 motor bebek (satunya punyaku yang butut), dan beban bahan pakan ternak yang akan diangkut kurang lebih 40 kg setiap karung. Kompleks sudah. Saat bahan pakan dinaikkan ke motor saja, motorku sudah berguncang dahsyat, soalnya ada dua karung yang harus kuangkut. Awal jalan, masya Allah, motorku goyang kiri dan kanan, brmm...brmmm, alhamdulillah lancar. Selanjutnya adalah masa yang paling sulit yaitu melewati jalan menanjak antara desa Junrejo dengan desa Tlekung. Semuanya lancar, kecuali pada jalan tanjakan terakhir, motorku ngadat, astaghfirullah, motorku oleng, hampir saja aku jatuh. Waduh, bener-bener pengalaman konyol bin menarik, ha...ha....Sesampainya di tempat penelitian, aku ditertawain teman-temanku, motor kotor, dan encok pegelinu ku kumat. Wah karena kejadian ini, jadi makin bersemangat untuk segera lulus, bekerja n menikah, jadi klo pegel2 kayak tadi, langsung bisa minta istri mijitin, he...he.....

Lactoscan

Cow juice or milkshakesImage via Wikipedia

Hari ke 7 dari penelitianku. Bu Bekti, Kepala BPT HMT Batu, akhirnya memberikan izin untuk menggunakan laktoscan. Laktoscan adalah alat uji kualitas susu dengan tingkat akurasi dan kecepatan ouput data yang cepat.
Kabarnya sih ni alat mahal banget,harganya antara 20-25 juta satu buah saja. Karena itu Bu Bekti mengamanahkan pada Mas Wiwit, staff yang sudah terlatih, untuk mendampingi aku kalau-kalau nanti aku hendak melakukan uji kualitas susu. Sekarang ini yang masih jadi tanda tanya bagiku adalah berapa biaya yang harus dibayar untuk setiap satu kali uji?...Hmmm, misalkan biayanya mencapai Rp.20.000/uji sampel, padahal aku harus menguji sekitar 45 sampel, berarti yang bakal kubayar sekitar...aduh, matri aku!

Malang, 28 Februari 2009

Reblog this post [with Zemanta]

Sabar iku penting fan...

Ramadhan MubarakImage by д§mд via Flickr

Sesaat ketika beristirahat dari rutinitasku selama di lokasi penelitian, aku tercenung dengan satu hal yang dulu sangat sering diutarakan oleh guruku.
"Sabar iku penting fan.." begitu nasehat beliau ketika sambil duduk-duduk bersama di sebuah gubug sederhana di kebun rumah beliau. nasehat itu sederhana redaksionalnya, namun mendalam maknanya, meluas implikasinya. Aku sendiri masih belum istiqomah dalam menaati nasehat beliau, sebagaimana nasehat itu sebenarnya diambil dari QS. Al Baqarah 153 "..sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar..". Kesabaran adalah keindahan, keindahan bagi diri, keindahan bagi orang lain, keindahan bagi masyarakat. Kamu tahu kenapa? Karena apa lagi yang lebih indah selain keindahan karena kebersamaan diri ini dengan Allah SWT?..







Reblog this post [with Zemanta]

Sebuah langkah dan niat awal

Faisol Amin, Aryuda dan aku sendiri pada tanggal 22 Februari 2009 telah bersusah payah mengumpulkan segala daya yang dimiliki
mulai dari niat (he..he..), keberanian, semangat, bahan baku pakan, surat jalan penelitian, alat makan, baju ganti, alat mandi,
alat sholat, de el el..untuk segera memulai penelitian kami yang seharusnya kami sudah memulai penelitian sejak Januari lalu.

Tentunya keterlambatan ini bukan salah kita donk (ciee...ngeles..!) Kita terlambat karena sapi perah yang kita butuhkan masih
belum jelas ketersediaannya, sehingga kita bertiga harus putar otak (akhirnya pusing sendiri..) bagaimana caranya penelitian bisa
tetap berjalan. Alhamdulillah, Bu Herni dosen Rancangan Percobaan kami membantu memberikan solusi penelitian dengan 9 ekor sapi perah dari 15 ekor yang seharusnya. Terima kasih ibuu..
Kami pun berangkat ke lokasi yang ada di Desa Tlekung, Kota Batu, sekitar 15 km dari kampus Brawijaya, dan naik dekat bukit Panderman dan BNS. nah ketika kami datang, kami sudah disambut kepala BPT HMT (Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak) Bu Bekti, dimana pas pada hari tersebut ada rombongan dosen dan mahasiswa Kedokteran Hewan dari kampus Univ Airlangga. "Sudah siap tinggal di asrama? " tanya bU Bekti kepada kami, "Insya Allah siap bu!" jawab kami kompak. Kemudian kami diperkenalkan dengan beberapa staf di kandang seperti Mas Antok (orange guede..), Pak Edi, Mas Wiwit (bagian cooling room), dan pak Pendik (bagian pemerah), mas Agung (anak kandang), dan beberapa staf lain yang masih belum kami kenal. Dan kebetulan banget disini juga sudah ada mahasiswa satu kampus tapi adik kelas yang sedang PKL (Praktik Kerja Lapang) mereka antara lain Harumi Yusinta anak PROTER 2006 dan Hani anak SOSEP 2005. " Wah mas, mau penelitian ya..?" tanya Hani, "insya Allah, soale kita-kita dah ketuaan klo di kampus terus.." jawabku, "Kamu disini PKL, dah berapa lama ?" tanyaku , "Masih 10 hari mas" kata Hani, "Oo, klo kita bakal 6 minggu disini, wah lumayan ada tambahan teman disini"sautku.." Ok mas, kita saling membantu ya..he..." kata Hani.
Sore hari kita cuma mengisinya dengan sedikit acara bersih-bersih asrama (katanya sih angker..hiii...!!) sebagai lokasi kos "gratis" kami. Nah karena kebetulan hari itu aku juga ada Rakerda KAMMI Daerah Malang, terpaksa aku tinggal sebentar balik ke kota Malang. Eh ternyata, karena situasi belum "terdaptasi betul" kedua temanku Faisol dan Yudha, sms aku " Fan kita ikut turun juga ya, soale kurang sip tanpa ada kamu, he...he..., laptopmu kubawain sekalian, kita nikmati malam ini dengan tenang di kosan dulu, ok". wealah, rek-rek..


Al Fatikhah


Al Fatikhah...
Dan 7 gunung terlampaui...

Al Fatikhah...
Dan 7 samudera terseberangi...

Al Fatikhah...
Dan 7 ruang bumi terjelajahi...

Al Fatikhah...
Dan 7 bintang menyinari...

Al Fatikhah...
Dan 7 lapis langit membuka gerbang...

Al Fatikhah...
Dan 7 sinar manusia bersinar terang...

Al Fatikhah...
Dan 7 ayatNya menyingkap kelam...
Berbahagialah...Kau telah melihat wajahNya...

Story of Sapi Perah PFH

Tidak terasa usia bertambah, dan rasa-rasanya uang tidak makin bertambah, hiks. Tapi tenang, insya Allah ilmu makin bertambah, amiiinn..Ni ceritanya saya sedang dalam proses penelitian, yups, penelitian, dan tentunya sudah memasuki tahap antara BAB III dan BAB IV, BAB Niat dah terlewati kok, he...he...Penelitian saya berkisar tentang sapi pakan sapi perah PFH.
Ada yang belum tau sapi perah PFH ? hmm..ok, klo gitu sebagai pendahuluan catatan konyol penelitian saya (mungkin jg ga layak jadi postingan), saya akan coba sebisa mungkin menerangkan sapi perah PFH. Sapi perah PFH adalah sapi perah bangsa FH yang berasal dari wilayah sumber bibit sapi perah di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) atau hasil persilangan dengan pejantan sapi perah bibit FH yang tidak diketahui kemurniannya. Pada umumnya sapi perah yang ada di Indonesia adalah PFH. Pemuliaan sapi perah di Jawa dimulai sejak dimasukkannya pejantan Friesian Holstein dari negara Belanda oleh Bosma Van Andel pada tahun 1891-1893 di wilayah Kawedanan Tengger Kabupaten Pasuruan, kemudian pada abad ke 20 Indonesia mengimpor sapi FH dari Belanda melalui jawatan kesehatan pusat guna meningkatkan produksi susu dan akhirnya pada tahun 1980 sapi ini mencapai ribuan ekor jumlahnya.
Populasi sapi perah di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 374.000 ekor dan produksi susu sebanyak 505.000 ton. Di propinsi Jawa Timur populasi sapi perah mencapai 134.043 ekor dengan perkiraan produksi susu 180.958 ton. Ciri-ciri sapi perah PFH antara lain warna belang hitam putih dengan dahi bertanda segitiga warna putih, keempat kaki bagian bawah dan ekor berwarna putih, tanduk pendek dan menjurus ke depan, lambat dewasa, tenang, jinak, tidak tahan panas, muda adaptasi, produksi susu sekitar 2500 kg setiap periode laktasi, lingkar dada pada jantan 193 cm dan betina 180 cm.Satu ekor sapi PFH betina bisa dijual sekitar 13 juta/ekor tergantung kondisi fisiologis dan performa produksi susunya, kalao yang jantan lumayan murah, pedetnya ya masih sekitar 4 jutaan lah untuk usia 1 minggu. Lebih mudahnya kalau kamu maen atau bahkan tinggal didaerah Wonosalam (Jombang), Batu, Malang, Pasuruan, Blitar, Tulungagung, SUkabumi, Bandung pasti ketemu sama sapi yang satu ini. Atau kalau mau mudahnya, doakan saya biar segera lulus dan punya usaha sapi potong dan sapi perah yang besar, tar kuajak liat-liatlah sapi-sapi di kerajaan bisnisku, he..he..

MengenalNya

Tiada warna, hanya nama

Cornwall ParkImage by Chris Gin via Flickr


Hampa….Warna…
Ada....atau Tiada...
Apakah berbeda bagi-Nya?....
Yaa Lathif...Yaa Al Wujud...
Kepada-Nya...
Rasa...
Jiwa...
Raga ini bersujud...

Malang, 15 Februari 2009





Kampanye Unik Caleg PKS

Dinamika demokrasi di Indonesia kini sarat akan kreativitas dan keunikan terutama dalam hal kampanye caleg. Tentunya segala upaya kreatif tersebut dilakukan dalam rangka menggapai kemenangan politik. Saya sendiri agak kagum dengan kreativitas tim pemenangan masing-masing caleg tersebut. Anda bisa lihat pada foto baliho salah satu caleg PKS yang saya tampilkan ini. Iya kan..? Caleg ini menggunakan ikon Po, si Panda lucu dalam film Kung Fu Panda sebagai daya tarik balihonya.
Saya mengenal beberapa kader PKS baik di Jombang maupun di Malang, dan saya tidak heran dengan bakal munculnya model kampanye seperti ini. Lha gimana ndak, kader-kader PKS itu isinya rata-rata anak muda semua, yang rata-rata juga ”maniak” film seperti Kung Fu Panda ini (saya juga sih, he...he..). Bahkan ada stiker caleg PKS pake ikon kartun Naruto, parah kan? Dasar anak-anak, he...he...., well meski demikian saya salut kepada upaya PKS yang mengoptimalkan dana kampanyenya yang terbatas dengan membuat model-model kampanye yang ”lain” daripada yang lain. Semoga kemunculan ikon anak-anak dalam kampanye PKS tidak justru mencerminkan kondisi pemikiran kader mudanya yang masih ”kekanakan", tetapi mencerminkan pandangan yang visioner dan kreatif. Salam

Politik kanibal caleg 2009, neo-politik devide et impera

Semarak baliho dan poster-poster para caleg parpol bertebaran di pinggir jalan-jalan, perempatan, pertigaan, depan pasar, depan taman kota, depan kampus, dan juga rumah calegnya itu sendiri. Jumlahnya kian bertambah sebagaimana waktu pemilu legislatif 2009 semakin dekat pula. Ada orang yang berdecak kagum dengan keberadaan baliho-baliho atau poster tersebut, sambil nyeletuk “ wah habis duit berapa ya para caleg itu? Kalau ngiklannya makin banyak, korupsinya juga bakal makin banyak nih!”.
Ada juga yang senang karena mungkin salah satu poster yang terpampang adalah caleg jagoannya. Tapi ada juga yang buenci alias sebel karena menurutnya baliho caleg itu semakin merusak pemandangan kota, merusak lingkungan dan juga merusak kenyamanan. Saya sendiri relatif setuju dengan yang buenci itu tadi, keberadaan baliho-baliho itu rata-rata tidak sedap dipandang. Belum lagi konten kata-kata propaganda yang dilontarkan, yang menurutku membodohi dan tidak mendidik, ada yang “Tegakkan kebenaran-lah”, ada yang “iki lho caleg dulur dhewe”, ada yang “timbang mumet, mending pancet”, ada yang “Kami beri bukti, bukan janji”, ada yang cucu, putra, putri atau keponakan ulama-lah, bahkan yang paling lucu “Jeritan rakyat harus dijadikan dasar kebijakan untuk mengangkat nasib rakyat kecil”. Onok-onok ae wong-wong iku...
Apa boleh buat, itulah caleg. Seribu janji kau tebarkan, sejuta ingkar kau laksanakan. Dinamika sistem demokrasi di negara kita ini boleh dibilang cukup menarik atau mungkin sangat menarik. Sejak Reformasi 1998, sistem demokrasi dan perpolitikan negeri zamrud katulistiwa ini terus bergeliat. Sebagaimana yang bisa kita lihat sekarang, Indonesia yang baru 64 tahun merdeka sudah muncul sebagai negara dengan sistem pilpres langsung yang bener-bener langsung-sung. Benar-benar luar biasa. Ke-demokrasi-an negara ini makin menjadi dengan dikeluarkannya keputusan MK yang mengabulkan gugatan uji materiil atas Pasal 124 huruf a, b, c, d dan e UU No 10/2008 tentang Pemilu. Dengan demikian, penetapan caleg terpilih pada Pemilu 2009 tidak lagi memakai sistem nomor urut dan digantikan dengan sistem perolehan suara terbanyak. Rata-rata sih kalau saya amati dari statemen-statemen (opo se statemen..? ) para caleg pada tidak setuju dengan keputusan MK tersebut. Tapi siapa sih di negeri ini yang bisa membatalkan keputusan MK? Dampak keputusan ini bisa kita saksikan sekarang ini. Poster, baliho, iklan TV, iklan koran para caleg parpol “GENTAYANGAN” menghantui masyarakat. Para caleg tersebut berupaya keras agar rakyat kenal dan simpatik (bukan Mentarik atau IM3ik, he...) terhadap pencalonan mereka. Logika nomor jadi seorang caleg, boleh dikata tidak berlaku lagi.
Jika dulu sebelum keputusan MK, para caleg biasanya “hanya” saling menjelekkan atau men-demarketing caleg dari parpol lain. Sekarang semua berubah. Karena harus meraup suara sebanyak-banyaknya di suatu dapil, seorang caleg pun tega menjelek-jelekkan rekan caleg se-parpol. Saya menyebut fenomena ini sebagai “politik kanibal” dari para caleg. Kanibal banyak juga dikenal di dunia hewan terutama peternakan, seperti pada ayam pedaging, ayam petelur yang kadang mematuki badan atau telur sendiri dan “rekan sesama ayamnya” hingga luka-luka dan bahkan mati. Demikian juga dengan fenomena politik kanibal para caleg tersebut. Para caleg itu saling mematuk caleg parpol lain sembari mematuk caleg rekan sesama ayamnya, eh sori, maksudnya sesama parpolnya. Teman-teman tau tidak fenomena ini mirip dengan fenomena apa? Yup, anda benar.. fenomena politik kanibal ini mirip dengan fenomena politik adu domba VOC terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara dulu. Jika demikian, apakah keputusan MK tersebut juga bagian dari neo-politik devide et impera negara imperialis modern?..Nah..

Ponari oh Ponari, Njombang maneh rek..!


Wheew...tidak lama setelah kasus "mas Ryan" yang menghiasi headline media massa Indonesia, muncul kembali "tokoh" Njombang yang tiba-tiba terkenal. Orang itu (lebih tepat anak itu kali ya, he...) bernama Ponari, arek Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Njombang puol.

Saya sendiri ketika baca kasusnya yang diberitakan telah menelan korban tewas 4 orang akibat desek-desekan jadi gak habis pikir. Njombang-njombang...sepertinya ndak pernah kehabisan berita ya, terutama berita sing elek-elek, he...he..., ya berita bagusnya cuma sekali di Tempo tentang Man of The year dari Jombang yaitu Bupati Terpilih Pak Suyanto. Njombang-njombang, sumber tokoh kontroversi di Indonesia, dan mungkin paling banyak kali. aduuh...kapan ya hal-hal kayak gini tidak menghiasi Jombang, tanah kelahiranku...? hiks...

Akhirnya kamu nikah yu...


Lama tidak bersua oh saudaraku, sejak SMP dan SMU kalian berdua sudah menjadi sahabatku, teman sekelas dan teman seperjuangan


Kini dikau berdua akhirnya menyempirnakan salah satu sunnah Rasul kita. Barrakallaahulaka untuk kalian berdua, semoga senantiasa dilimpahi Allah SWT dengan kebahagiaan, kesejahteraan dan ketentraman, amin. Wahyuuu...!!! Nitaaa...!! Doakan juga ya kami yang di samping2 kalian juga segera menyusul kebahagiaan seperti kalian..

Presiden AS Obama : Harapan barukah?

An endorsement of ObamaImage by bobster1985 via Flickr
Barrack Hussein Obama akhirnya resmi menjadi presiden AS ke 44. banyak pengamat politik, tokoh, dan bahkan rakyat biasa tidak hanya di Amerika tapi juga di beberapa negara lain termasuk Indonesia begitu menaruh harapan tinggi terhadap presiden AS baru ini.
yah, saya sendiri sih pada dasarnya juga menaruh harapan tinggi bahwa presiden ini bisa 'sedikit' merubah gaya diplomasi AS yang di masa-masa Bush cenderung represif, kasar dan ya banyak kurang inteleknya. meski demikian ekspektasi yang terlalu tinggi kayaknya kurang bijak juga, terutama masalah isu teroris dan konflik palestina-israel. sampai detik ini, Obama masih menunjukkan sikap pro-Israel, tidak ada kecaman untuk agresi militer Israel dan cenderung menganggap Hamas sebagai kelompok teroris. Padahal Hamas adalah representasi kuat rakyat Palestina yang menang secara demokratis di pemilu Palestina. Hmmf....tapi apa boleh buat, untuk saat ini memang hampir seluruh aspek kehidupan mulai dari makanan hingga informasi sudah dikuasai oleh "musuh Islam', maksud saya adalah yang tidak suka dengan kehidupan merdeka dan sejahtera rakyat Islam di semua negara. Media yang menjadi kekuatan utama propaganda AS terhadap negara-negara yang berlawanan kepentingan akan dengan mudahnya dijustifikasi sebagai negara pembangkang, sarang teroris, antidemokrasi dan lain-lain.
Oleh karena itu kehadiran Obama sebagai pemimpin AS yang baru, perlu kita sikapi dengan proporsional, tidak usah berharap terlalu tinggi, terutama umat Islam dunia, toh pada dasarnya di AS sendiri logika kepemimpinannya "masih ada langit di atas langit", kita nggak tau siapa sebenarnya yang lebih berkuasa dibalik kepemimpinan Obama. Bagi yang penting adalah terus bergerak semaksimal mungkin sebagai bagian dari umat Islam untuk membangun peradaban yang lebih Islami terutama masalah ukhuwwah Islamiyah, minimal dengan keluarga, teman maupun tetangga.


Reblog this post [with Zemanta]

Tragedi di Palestina

I found this fascinating quote today:

PALESTINA membara lagi. Mesin-mesin pembunuh Israel menyalak lagi. Ratusan orang meregang nyawa lagi. Air mata dan darah menggenang lagi. Dan, bocah-bocah tak berdosa itu kehilangan harapan lagi.The Entertainment Files, Jan 2009You should read the whole article.

Tragedi kemanusiaan di Gaza Palestina adalah sebuah tragedi yang menunjukkan bahwa masalah imperialisme di dunia ini masih "hidup" dan "konkrit". Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan sebuah negara dari penjajahan dan penindasan oleh suatu negara ke negara lain dalam "bentuk" apapun dan dengan "alasan" apapun. Mari kita semua berdoa untuk keselamatan warga Palestina di Gaza dan mendesak Israel menghentikan agresi militernya, mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza serta meminta maaf dan mengganti seluruh kerusakan yang sudah ditimbulkan kepada warga Palestina terutama di jalur Gaza.



Pertanian dan Peternakan, sebagai batu bata fundamental perekonomian Indonesia

Seperti yang sudah diketahui saat ini, dunia mengalami krisis financial global yang dipicu krisis kredit property di Amerika Serikat. Krisis yang menyebabkan pemerintah AS mengeluarkan dana talangan US$ 700 juta tersebut pada akhirnya melumpuhkan perekonomian AS sendiri dan tentunya “menular” ke Negara lain di Eropa, Afrika dan Asia, termasuk juga di Indonesia
Saya membaca di beberapa Koran harian mengenai krisis financial global ini, dampaknya memang sungguh luar biasa. Terlihat dalam harian yang terbit beberapa hari ini mengenai dampak krisis tersebut, gambar para pialang saham dari beberapa Negara di Eropa dan Asia yang sedih, menutupi wajah dan seperti hampir menangis. Saya baca dibawah gambar tersebut tulisan yang menerangkan mereka yang sedih tersebut disebabkan beberapa persen asset mereka dalam saham menguap begitu saja akibat krisis ini. Duh, rasanya gimana ya klo satu menit yang lalu kita punya asset milyaran rupiah dan dalam satu menit berikutnya semuanya tiba-tiba raib begitu saja..?
Pemerintah Indonesia yang menerapkan system perekonomian hasil jiplakan dari Amerika Serikat pun lumayan panic, meski dalam keterangan persnya selalu menyatakan agar masyarakat tidak panic. Dibuatlah beberapa kebijakan yang saya sendiri belum ngeh, salah satunya menaikkan BI rate. He..he.., maklum belum begitu dalam belajar tentang perbankan. Tapi yang saya ketahui dari berita lain bahwa kunci untuk menolong Indonesia dari krisis ini adalah penguatan ekonomi di sector riil. Kalau anda belum mengerti apa itu sector riil, contoh paling mudah ya itu si abang bakso yang jualan di pinggir jalan, ibu-ibu jual gorengan, warung tegal, gerobak es cendol, petani di sawah, peternak sapi perah itulah contoh sector riil atau ekonomi mikro. Atau dalam bahasa kerennya teman-teman ekonomi disebut UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Opini dari para ahli pun bermunculan untuk sumbang pemikiran tentang solusi menghadapi krisis ini terutama dalam jangka panjang. Di harian Kompas edisi 18 Oktober 2008 terdapat artikel berita yang cukup menarik berjudul “Pertanian Harus Diselamatkan”. Artikel tersebut membahas hasil diskusi “ Peluang Pertanian di Tengah Krisis Keuangan Global” di Institut Pertanian Bogor. Inti dari artikel tersebut adalah pemerintah harus segera menerapkan kebijakan ekonomi yang pro pertanian, karena pertanian merupakan bagian dari fundamental ekonomi negara.
Saya sependapat dengan apa yang dinyatakan dalam artikel tersebut, tidak hanya pertanian, peternakan pun bagian dari fundamental ekonomi bangsa ini. Karena dari kedua sektor tersebut, harapan terhadap ketersediaan pangan negara ini ditambatkan. Bayangkan saja, apabila pemerintah masih saja belum memberikan kebijakan yang bersifat melindungi petani-peternak seperti proteksi harga komoditas saat panen raya, proteksi harga saprotan (sarana produksi pertanian) dan sapronak (sarana produksi peternakan), dan beberapa kebutuhan lain. Padahal petani-peternak termasuk golongan ‘pengusaha’ yang tergantung pada kredit pinjaman bank atau lembaga keuangan mikro untuk mengawali usahanya. Petani-peternak dengan ‘daya’ modal yang lemah, melakukan gambling dengan meminjam uang sebagai modal usaha. Ketika krisis ini semakin luas dan nyatanya demikian, pertanian dan peternakan akan terlibas habis karena tidak dapat bertahan. Apa jadinya kalau negara ini sudah tidak memiliki lagi petani yang menanam padi, jagung, kedelai di lahannya? Apa jadinya negara ini kalau sudah tidak memiliki lagi peternak yang memelihara ayam potong atau sapi perah? Apa jadinya klo masyarakat petani yang sudah tidak punya keahlian lain selain bertani, terpaksa menganggur karena sudah tidak ada hasil yang diharapakan? Berapa juta pengangguran yang akan timbul ? Klop deh akhirnya, setelah krisis global berakhir, Indonesia terpaksa kembali melakukan impor bahan pangan dari negara lain, pengangguran naik, kemiskinan naik. Pada akhirnya ledakan gejolak sosial yang terjadi, bisa jadi persis yang terjadi pada saat krisis moneter 1998. Duh...
Menurut saya pemerintah Indonesia terutama tim ekonominya harus segera merumuskan dan melaksanakan kebijakan perekonomian makro yang pro petani-peternak. Kebijakan yang membuat denyut hidup industri berbasis komoditas pertanian semakin keras. Jangan hanya pengusaha properti atau migas saja yang dilindungi. Petani-peternak yang notabene banyak orang kecil harus diprioritaskan juga. Negara maju seperti AS dan Cina begitu memperhatikan sektor penghasil pangan mereka yaitu pertanian dan peternakan, meski ditengah krisis global ini. Dalam pandangan saya, kedua negara maju tersebut sudah sangat lama menganggap pertanian dan peternakan adalah bagian dari batu bata pembangun fundamental perekonomian negara. Mengapa Indonesia tidak? Sadarlah Pak SBY yang doktor pertanian, bahwa pertanian dan peternakan di negara kita harus dilindungi agar negara kita punya harapan untuk ‘selamat’. Duh siapa saya ya, kayak udah ahli aja mengingatkan SBY segala, he...he....

Urgensi Estetika dalam Gerakan Dakwah

Kalau kita mengingat bagaimana dahulu Islam ini didakwahkan oleh generasi pendakwah pertama di tanah Nusantara, tentunya kita akan cenderung banyak bertanya, metode apa yang diterapkan oleh para pendakwah kala itu terhadap masyarakat yang rata-rata masih menganut aliran kepercayaan animisme/dinamisme dan agama hindu dan budha?.
nda mengenal sejarah Walisongo dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa? Setidaknya sedikit dalam satu versi yang diketahui oleh banyak orang sekarang ini. Apa yang menjadi kata kunci dalam gerakan dakwah Walisongo kala itu?Benar!, Asimilasi. Setidaknya itu yang paling banyak dilontarkan para ahli sejarah di Indonesia. Asimilasi, sebuah langkah dakwah menanamkan nilai tauhid dan syariat dalam kehidupan dengan menggunakan instrumen kebudayaan atau kultur kehidupan masyarakat Jawa saat itu.

Salah satu bentuk kultur yang dimanfaatkan oleh para da’i ini adalah kesenian gamelan, wayang dan lagu-lagu dolanan. Kita mengenal kesenian wayang kulit Purwa yang merupakan buah kreatifitas Sunan Kalijogo dalam berdakwah di kalangan masyarakat Mataram Hindu. Sunan Kalijogo dalam kesenian wayang kulit, selain menghadirkan tokoh-tokoh wayang Mahabarata versi Hindu seperti Pandawa dan Kuarawa, juga menambahkan beberapa tokoh seperti Punakawan (Semar, Bagong, Petruk, Gareng), Limbuk dan satu jenis jimat (azimat) ampuh bernama Kalimasada (dari kata Kalimah Syahadatain). Bahkan masyarakat kala itu jika ingin menikmati pertunjukan wayang beliau, diharuskan mengucapkan Kalimah Syahadatain sebagai karcis masuk. Subhanallah! Sebuah langkah dakwah yang strategis, efektif dan massif karena masyarakat Mataram Hindu kala itu hobi banget dengan pertunjukan wayang.
Kita juga mengenal Sunan Ampel yang membuat lagu dolanan Lir-ilir dan lagu Tombo Ati yang sekarang sudah menjadi lagu religi dan nasyid yang paling hit di negeri ini. Sunan Ampel mengenalkan kaidah rukun Islam melalui simbol buah belimbing dan kaidah kepemimpinan umat dalam simbol cak angon dalam lagu Lir-ilir. Lagu Tombo Ati dikenalkan sebagai sebuah produk dakwah yang mengajarkan lima langkah sederhana namun dalam, untuk menempuh hidup yang diridhoi Allah SWT. Sunan Ampel nampaknya juga menyadari realitas kondisi obyek dakwah saat itu yang sangat menyukai lagu-lagu atau nyanyian ndeso.
Nah bagaimana dengan realitas kondisi dakwah sekarang ini? Pada dasarnya jika anda amati maka tidak akan jauh berbeda antara realitas masyarakat di zaman Walisongo dengan zaman kita sekarang. Masyarakat saat ini pun memiliki kecenderungan terhadap produk-produk seni seperti film, sinetron, lagu, games outbond, puisi, sajak, novel dsb. Artinya realitas dakwah saat ini juga adalah tentang ”hobi” masyarakat dalam hal keindahan. Ustadz Anis Matta dalam ceramahnya ” Manhaj Dakwah” menyampaikan penting estetika sebagai bagian dari kombinasi dakwah ini. Masalahnya sekarang seberapa jauh kita memandang urgensi estetika atau kesenian sebagai bagian dari manhaj gerakan dakwah agar Islam tidak hanya menegara, tapi juga membumi di bumi zamrud Katulistiwa ini?
Gerakan dakwah Islam sesungguhnya sudah kecolongan dengan bermunculannya produk-produk seni dari kelompok agama lain. Kita mengenal kartun-kartun Walt Disney dan Warner Bross seperti Donal Bebek, Mickey Mouse, Pluto, Guffi, Putri Salju dan 7 Kurcaci, Bugs Bunny, Daffy Duck, Road Runner atau kartun MGM seperti Tom and Jerry. Dan tentunya anda tidak akan menemui kartun-kartun tersebut pernah ditayangkan dalam rangka menyambut Lebaran, tetapi menyambut Natal dengan simbol-simbol pohon Natal dan Sinterklas. Tidak ada namanya Donald Bebek mengajak anak-anak kecil penggemarnya untuk merayakan Idul Fitri, yang ada ya merayakan Natal dengan segenap kegembiraan. Ini artinya gerakan agama lain telah jauh-jauh hari menyadari dan menyikapi urgensi estetika dalam mengkomunikasikan ”inti agama” kepada masyarakat dunia secara efektif dan massif. Bahkan tidak hanya dari kelompok Nasrani yang menggunakan produk estetika dalam mempropagandakan agama mereka, kelompok pendukung paham-paham tertentu seperti atheis dan sosialis juga telah memanfaatkan media estetika dalam mempropagandakan ide mereka. Hasan Al Banna dalam salah pernyataannya di buku ” Risalah Pergerakan” mengatakan ”Sarana-sarana propaganda saat ini pun berbeda dengan sebelumnya. Kemarin, propaganda disebarkan melalui khutbah, pertemuan atau surat menyurat. Tapi sekarang seruan atau propaganda kepada isme-isme itu disebarkan melalui penerbitan majalah, koran, film, panggung teater, radio dan media-media lain yang beragam. Sarana-sarana itu telah berhasil menembus semua jalan menuju akal dan hati khalayak, baik pria maupun wanita, di rumah-rumah, di toko-toko, di pabrik-pabrik, bahkan di sawah-sawah mereka”.
Meski sedikit jauh tertinggal, beberapa kelompok gerakan dakwah Islam juga mulai mengejar ketertinggalannya. Sebuah gebrakan baru dalam me-refresh gerakan dakwah Islam kontemporer di negara ini melalui jalur kesenian telah mulai dilakukan seperti bermunculannya lagu-lagu nasyid yang dibawa oleh generasi muda negeri ini. Pertama kali kita mengenal nasyid dari Malaysia yang dibawa oleh Raihan, selanjutnya kita mengenal Shoutul Harokah, Justice Voice, Tazakha, The Fikr dsb. Saat ini juga sudah bermunculan kartun anak-anak, salah satunya yang sangat terkenal adalah film Upin dan Ipin yang digarap dengan apik oleh para pekerja dakwah sekaligus seniman dari Malaysia.
Dakwah saat ini membutuhkan lebih dari sekedar ceramah dan khutbah dalam mempropagandakan inti ajaran agama, namun juga membutuhkan sisi estetika yang lebih mudah diterima dan dicerna oleh masyarakat pada umumnya. Pemaksaan komunikasi dakwah agama hanya melalui ceramah-ceramah, kelompok-kelompok kajian, buku atau kegiatan lain yang mungin dinilai eksklusif oleh masyarakat kita akan menjadi langkah kontraproduktif. Musuh dakwah ini sudah sedemikian gencarnya memanfaatkan estetika sebagai kanal propaganda yang paling efektif, maka jika tidak ingin kalah sudah seharusnya gerakan dakwa Islam juga memanfaatkan kanal ini. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Musa r.a. ” Rasulullah SAW setiap kali mengutus seorang dari sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda, ”Berilah berita gembira dan jangan membuat orang lari, permudah dan jangan mempersulit”.


Kehidupan masyarakat pemulung di TPA Urang Supit, Kota Malang

Sebuah sms masuk ke hp ku dan ternyata ajakan mendadak, kurang lebih begini smsnya ” Akh kelompok kami akan melakukan penelitian di TPA (Tempat Pembuangan Akhir, bukan Taman Pendidikan Al Quran lo ya..)
Urang Supit besok, mengenai kehidupan pemulung, sesuai survey Akh Azhar disarankan kalau kesana dibutuhkan tambahan ikhwan yang mengantarkan, bagaimana?”. Well, dengan cukup berat hati (tapi insya Allah ikhlas ) berangkatlah diriku ini menuju suatu lokasi yang saya kira tidak mungkin banyak disukai orang, terutama di masa-masa weekend (kalo Patrick ga tau saya he...he...).
Perjalanan dengan menggunakan sepedah montor (sepeda motor) sejauh 8 kilometer lebih atau menempuh waktu sekitar 20 menit arah Mulyorejo, dari perempatan pom bensin Sukun belok kanan. Setiba di lokasi, rombongan peneliti dadakan ini disambut dengan senyuman anjing-anjing kampung yang berkeliaran serta tumpukan sampah yang baunya ya ampuunn....subhanallah..!! He...he....he....luar biasa.

Ide awal penelitian ini adalah berkisar mengenai posisi pemulung sebagai bagian dari anggota masyarakat di Kota Malang yang boleh dibilang ”termarjinalkan” dari anggota masyarakat lain. Istilah pemulung bagi sebagian besar masyarakat kita selalu dikesankan dengan ”kotor, bau, miskin, rawan penyakit dll” dan sebagian besar mahasiswa ”sinterklas pengambil sandal dan sepatu’ he..he...(pengalaman pribadi). Tapi memang demikianlah realitas yang ada di pikiran masyarakat kita. Ide selanjutnya adalah mengenai bagaimana sampah-sampah yang dikumpulkan dari beberapa titik di kota Malang tersebut diolah, berapa jumlah sampah yang datang tiap harinya dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan sekitar TPA tersebut.
Kita mulai cerita petualangan akhir pekan ini dari sebuah gubuk reyot diantara sampah yang berserakan. Disitu ada seorang ibu dan putrinya yang baru berusia sekitar 6-7 tahun. Nama anak itu Aisha kalau ndak salah ( wah apakah ini calon istrinya Fahri kelak? He..he..). Di gubuk reyot tersebut yang saya kira rumah mereka dan ternyata dugaan saya salah besar (afwan... :)) terdapat sebuah sepeda motor milik ibu pemulung tadi disembunyikan. Tak berapa lama kemudian muncul bunyi ringtone sebuah HP yang ternyata membuat rombongan peneliti dadakan ini cukup kaget dan tentunya sedikit tersenyum, he...he....zaman makin canggih aja. Kalau dulu bunyi HP cuma ada di perkantoran, sekarang di TPA juga ada yang make HP. Ini juga salah bukti kebesaran dan kasih sayang Allah SWT kepada makhlukNya, zaman sekarang siapapun berhak menggunakan HP apapun status kelas sosialnya. Jadi jangan meremehkan orang dari penampilan saja. Kalo kata teman saya ” Don’t asses the book from it’s cover”, tapi kalau kata saya pribadi ” don’t be too much..” he…he…,pis!.
Nah cukup bercandanya. Dari keterangan yang didapat, di lokasi TPA Urang Supit terdapat sekitar 302 pemulung dari berbagai wilayah, tidak hanya dari local Malang tapi juga masyarakat dari Kediri dan Pasuruan. Setiap pemulung di TPA Urang Supit memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota) sebagai bukti resmi keanggotaan pemulung di TPA Urang Supit. Bahkan kata bapak Pandri salah satu pemulung disana, paguyuban pemulung ini sudah tertata rapi keorganisasiannya, punya Ketua dan Sekjen segala. Kayak parpol ya?! He… Sampah yang datang di TPA ini sangat beraneka ragam, mulai dari sampah logam, plastic, kertas dan sampah organic. Sampah yang dipunguti oleh para pemulung ini hanya sampah logam, kertas dan plastic yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi untuk dijual ke penampung yang akan mengirimkan ke pabrik daur ulang. Sampah plastic yang memiliki nilai ekonomis paling tinggi adalah bekas botol atau gelas minuman mineral sejenis Aqua dengan nilai jual sekitar Rp. 2000/kg. Salah satu pemulung menuturkan pendapatan sehari per pemulung berkisar antara Rp. 20.000,00-Rp.40.000,00. Pendapatan yang lumayan kalau menurut saya, pantas saja bisa punya sepeda motor dan HP ( he…he…). Sedangkan sampah organic dibiarkan begitu saja membusuk sampai menjadi kompos. Dampaknya bagi lingkungan sekitar nampaknya cukup terasa rusaknya, meski ini perlu dibuktikan oleh para peneliti lingkungan. Meski demikian di TPA Urang Supit terdapat tiga kolam bertingkat untuk menampung limbah cair sebelum dibuang ke sungai,
Disini kalau saya simpulkan pengelolaan sampah yang di TPA Urang Supit mengandalkan peran pemulung yang secara langsung melakukan pemilahan sampah berdasarkan nilai ekonomisnya. Dengan demikian Pemkot Kota Malang tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk mengelola sampah yang jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan ton tiap minggunya.
Nah bagaimana dengan kehidupan para pemulung disana? Kalau anda mengira dengan setiap hari bekerja dengan memunguti sampah membuat mudah terserang penyakit, maka anda akan cukup kaget bahwa ada lebih dari satu pemulung di lokasi TPA yang menyatakan pekerjaan mereka tidak memberikan dampak merugikan bagi mereka, dalam hal ini penyakit. Apakah itu TBC, pes, sesak nafas dsb, tapi kalau penyakit kulit mungkin kali ya..? he….he…Bagi mereka dengan beraktivitas yang luar biasa berat tersebut, menjadikan tubuh mereka makin sehat dan cukup resisten terhadap penyakit. Jadi maksudnya kayak ikut fitness tiap hari, jadi daya tahan tubuhnya kuat, hmm masuk akal juga.
Ibu dik Aisha yang juga salah satu pemulung menuturkan bahwa pekerjaan memunguti sampah ini sudah sangat lama dilakukan dan menjadi mata pencaharian utama. Mayoritas mereka menyatakan tidak begitu perduli dengan anggapan masyarakat mengenai pekerjaan mereka. Mungkin para pemulung tersebut berprinsip asalkan hasilnya halal, meski harus memungut sampah maka tidak menjadi masalah. Subhanallah, beda banget dengan para koruptor negara ini yang mengais uang rakyat dengan cara yang tidak halal. Huh..!
Dan pada akhirnya kami mengakhiri penelitian lapang kami dan beranjak ke kantor Dinas Pengelolaan Sampah Kota Malang (bener ga?) yang berada tidak jauh dari titik pengamatan kami. Saya belum tau data selengkapnya dari hasil wawancaranya karena tidak ikut masuk. Setelah itu berakhir lah penelitian ini, saya legaaaa banget terbebas dari bau sampah yang ndak sedep banget dan bisa kembali ke peradaban Kota Malang.

Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Kerja Ikhlas

Mumpung masih fresh, beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah kajian rutin. waktu itu tema kajian yang diangkat adalah tentang bagaimana peranan Allah SWT sebagai tuhan yang mengatur luas dan sempitnya rezeki manusia.
Disebutkan di dalam Al Qur'an surat Al Isra' ayat 30 “30. Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. Hal ini kemudian membuat saya berpikir sejenak lebih dalam, ternyata kenyataan memang menunjukkan hal yang demikian. Misalkan ada dua orang sama-sama menjadi guru PNS maka rezekinya belum tentu sama meski gajinya sama, si A dengan gaji sama Rp. 1500.000,00/bulan ternyata dikaruniai Allah SWT dengan istri shalehah dan anak-anak yang sehat dan shaleh, sedangkan si B dengan gaji yang sama besarnya dengan si A dikaruniai istri shalehah tapi belum dikaruniai anak, tapi dikaruniai kesempatan memiliki usaha sampingan yang cukup sukses. Demikian masih banyak contoh lain yang bisa saya atau mungkin anda dapatkan di alam kenyataan ini, coba amati…

Mengintegrasikan antara bunyi QS Al Isra’ 30 dengan kenyataan akan menghasilkan buah kesimpulan bahwa dengan sudah ditetapkannya besar rezeki kita oleh Allah SWT maka tidak sepatutnya kita harus “selalu” menghitung-hitung pendapatan yang akan kita peroleh dalam satu hari ini, seminggu ke depan, 2 bulan ke depan atau mungkin beberapa tahun ke depan. Memperkirakan sih bisa saja karena itu bagian dari karunia berupa akal kita yang mampu untuk merencanakan suatu target dan strategi yang akan ditempuh, sehingga dalam melakukan suatu pekerjaan akan selalu termotivasi dan bersemangat. Intinya kita tetap merencanakan sebuah rencana dan target jitu (kerja cerdas), menjalankannya dengan bersemangat (kerja keras) dan menyerahkan seluruh hasil pekerjaaan kita kepada Allah SWT apakah baik atau buruk, diterima atau ditolak, besar atau kecil, rugi atau laba dan lain sebagainya (kerja ikhlas). Bagi yang sudah menonton film Kung Fu Panda, menemukan adegan yang sarat makna dimana Oogway si Kura-kura yang Bijak menasehati Po dengan kata-kata “Quit… don’t quit, noodles…don’t noodles, you’re too concern what was and what will be”. Keren ya nasehatnya…!?:) Kurang lebih maksud nasehat itu adalah kita tidak usah memperdulikan hasil akhir dari usaha kita nanti seperti apa, namun yang penting kita menjalankan dengan maksimal apa yang sudah ada di hadapan kita.
Sekeras apapun usaha kita, secerdas apapun pemikiran kita, kalau Allah SWT belum mengizinkan kesukesan bagi kita, maka kegagalanlah yang kita dapatkan. Meski secara logika probabilitas kesuseksan paling besar setelah factor kerja cerdas dan kerja keras dilakukan. Tapi sekali lagi ini semua sudah berada di tanganNya. Misalkan saya sendiri, sejak Agustus 2008 hingga 2 hari yang lalu saya sudah merencanakan dan mengerjakan konsep penelitian saya, tentunya setelah cukup sering berdiskusi dengan dosen, tapi proposal dan untuk seminar saja masih belum dibolehkanoleh dosen pendamping 2. Saya sendiri sempat marah dan jengkel, apalagi ketika seluruh substansi proposal saya diputar-putar dari konsep A yang benar menjadi konsep B yang benar. Nah setelah proses lebih dari 2 bulan, dan setelah didesak, pak dosen baru memberikan lampu hijau bagi saya untuk segera seminar dan penelitian dengan embel-embel catatan penting. Tapi bagi saya ini sebuah kesempatan dan rezeki berupa kemudahan dari Allah SWT untuk segera memproses tugas akhir. Dan saya pun meyakini ketika pasca penelitian nanti, cobaan yang lebih berat akan menanti saya, dan tidak akan mudah untuk mencapai kelulusan apalagi dengan nilai nyaris sempurna. Yang terpenting bagi saya saat ini ya berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan penelitian saya dengan kaidah ilmiah yang ada. Masalah nanti hasilnya tidak memuaskan, anggaplah itu pelajaran hidup. Toh hidup jadi tidak cukup menarik kalau kita selalu mendapatkan pujian atau prestasi tinggi, mungkin dengan cemoohan atau nilai yang belum optimal (minimal B lah  ) akan membuat kita lebih giat me-musahabah-i diri sendiri.


KOMIK NABI MUHAMMAD SAW : STRATEGI POLITIK 2009

Rasanya masih teringat di pikiran kita bagaimana isu karikatur Nabi Muhammad SAW sekitar satu tahun yang lalu di sebuah majalah di Denamark, yang dampaknya super luar biasa. Isu itu kembali merebak di Indonesia, dan kali ini pelecehan itu bukan dalam rupa karikatur tapi lebih seperti cerita bergambar atau komik. Substansinya bahkan lebih kurang ajar, sosok Rasul yang begitu diagungkan oleh umat Islam di seluruh dunia ini diceritakan sebagai seseorang dengan perilaku tidak senonoh. Saya sendiri sangat geram dengan komik tersebut, rasanya jadi pengen ketemu pelakunya kayak apa rupa pembuatnya ini.
Tapi yang menarik dari kasus ini adalah timing kemunculannya yang bisa dikatakan bukan sebuah kebetulan, bisa dikatakan sedikit mencurigakan. Kita tahu bahwa saat ini masih terjadi krisis finansial global yang dipicu oleh krisis kredit macet di AS. Dampaknya seperti efek bola salju yang terus menggelinding hingga dirasakan oleh negara kita sekarang. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah, hingga tulisan ini dibuat posisi rupiah terhadap dollar AS bertengger di posisi Rp. 12.300,00 per dollar AS (Jawa Pos, 22/11/2008). Pemerintahan saat ini pun kembali dirundung kepanikan yang luar biasa.

Lantas apa hubungannya isu komik nabi Muhammad SAW dengan strategi politik 2009? Saya pribadi berpendapat bahwa kemunculan komik Nabi Muhammad SAW tersebut adalah salah satu langkah pengalih perhatian oleh pihak tertentu terhadap umat Islam di Indonesia agar berpaling dari isu krisis finansial global dan melemahnya kurs rupiah terhadap dollar AS. Kita ketahui bahwa dari populasi penduduk sekitar 222 juta penduduk setidaknya 95 % masyarakat Indonesia beragama Islam, dan ini merupakan potensi suara yang sangat besar bagi pihak atau partai tertentu yang mengharapkan kemenangan pada pesta demokrasi 2009 nanti.
Pengalihan perhatian ini apabila berhasil dalam jangka waktu tertentu tentunya akan membantu proses recovery image dan popularitas pemerintahan sekarang yang cenderung menurun berdasarkan survey beberapa lembaga survey di Indonesia. Dengan demikian peluang untuk meraih kembali kemenangan politik incumbent di tahun 2009 kembali terbuka. Kalau tidak ada langkah untuk menyelamatkan muka saat ini, maka popularitas pemerintah akan drop dan pada pemilu 2009 nanti, incumbent akan dengan mudah dikalahkan oleh lawan politiknya.
Jadi, terkait kemunculan komik Nabi Muhammad SAW tersebut lebih baik diacuhkan saja, toh itu karya murahan yang dibuat oleh orang-orang yang mungkin murahan juga, baik dimata manusia maupun di hadapan Allah SWT. Jangan sampai emosi kita terpancing, karena si pembuat akan semakin senang. Kita doakan agar si pelaku segera ditangkap dan diberi hukuman setimpal. Umat Islam di Indonesia adalah umat yang sudah dewasa, mari kita pusatkan energi kita untuk menyelesaikan permasalahan umat yang lebih krusial.

IKLAN POLITIK PKS BERBUNTUT PERPECAHAN INTERNAL

Nampaknya iklan politik PKS (Partai Keadilan Sejahter) di media elektronik yang memuat sejumlah tokoh nasional termasuk mantan Presiden Soeharto menjadi blunder politik yang tak berkesudahan. Pasca
awal penayangan iklan tersebut, sikap kontra ditunjukkan oleh sejumlah tokoh ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah yang merasa tidak terima apabila tokohnya dimuat dalam iklan politik tersebut. Kini sikap kontra justru ditunjukkan dari internal PKS sendiri, tidak tanggung-tanggung, Dr. Hidayat Nurwahid sendiri yang menyatakan hal tersebut. Beliau menyatakan bahwa keputusan untuk mengikutkan ikon Soeharto dalam iklan tersebut bukanlah keputusan resmi partai, melainkan keputusan sepihak faksi dalam PKS (Jawa Pos, 22/11/2008).
Saya pribadi bergumam dalam hati ”Waduh bakal cilaka nih kalau ndak ada klarifikasi dan penjelasan dari internal ke kader yang ada di bawah!”. Karena dengan pernyataan demikian kan menunjukkan adanya ketidaksolidan internal pimpinan PKS dalam menentukan langkah pencitraan PKS di masyarakat dalam rangka Kemenangan Dakwah 2009. Ini bisa terus berimbas bahkan hingga di tingkat halaqoh kader, kader akan bertanya-tanya ada apa gerangan di atas?..Karena selama ini struktur organisasi PKS selalu menggunakan instrumen yang bernama ”syuro” dalam membahas permasalahan dan membuat keputusan atas permasalahan yang di hadapi.
Ustadz Anis Matta dalam bukunya yang berjudul ” Menikmati Demokrasi” mengatakan bahwa seyogyanya tidak ada protes, keluhan atau ketidakpuasan atas suatu keputusan yang dibuat melalui syuro. Protes, keluhan, usul dan lainnya harus ditumpahkan dalam syuro agar bahan baku syuro dalam mengambil keputusan akan lebih mengakomodir seluruh pemikiran peserta syuro. Hal ini juga akan mengasah kedewasaan bersikap dan berpikir kader PKS dalam dinamika dakwah yang selalu mengalami pasang surut.
Kalau kita amati kasus pemunculan Soeharto dalam iklan politik PKS dinilai Dr. Hidayat Nurwahid tidak melalui persetujuan majelis syuro DPP PKS. Ini artinya faksi atau mungkin bahkan individu yang ”meloloskan” Soeharto dalam iklan politik tersebut adalah faksi atau individu yang memiliki pengaruh kuat di internal maupun eksternal. Karena secara logika organisasi, dalam konteks PKS, sangat tidak mungkin ada sebuah keputusan strategis yang berkenaan dengan publik secara langsung tanpa sepengetahuan majelis syuro. Berarti ada sebuah ”pemaksaan” keputusan tambahan agar Soeharto dimunculkan sebagai ikon pahlawan dan guru bangsa dalam iklan politik PKS. Masalahnya siapakah individu atau faksi tersebut? Yang jelas hanya internal DPP PKS yang tahu. Saat ini yang lebih penting adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menjelaskan permasalahan ini kepada kader dan juga masyarakat. DPP PKS juga harus melakukan muhasabah terhadap ”celah” saluran keputusan strategis partai agar kasus serupa tidak terulang. Perjuangan dakwah di tahun 2009 membutuhkan energi besar, strategi jitu dan rapatnya barisan karena rival dakwah yang dihadapi semakin kompleks dan kuat. Sebagai penutup tulisan ini marilah kita baca kembali QS. Ash Shaff ayat 4 "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh".


Family Poultry Farming

Bagi anda yang punya saudara tinggal di kampung, teman di kampung, orang tua di kampung atau anda sendiri tinggal di kampung, pasti tidak asing dengan keberadaan ayam kampung
yang bebas berkeliaran kesana-kemari. Ayam-ayam tersebut dipelihara secara sederhana, biasanya tujuan dari peternakan tersebut sederhana yaitu untuk “tabungan” daging ketika dibutuhkan kalau mau mengadakan hajatan atau sekedar pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi keluarga. Pola peternakan ayam semacam ini dalam ilmu perunggasan dunia dikenal dengan istilah Family Poultry Farming atau Beternak Unggas skala Rumah Tangga, agak keren ya istilahnya?..he..he.., well biasa aja mungkin.
Beternak unggas semacam ini banyak ditemui di negara berkembang Asia seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, Thailand, sebagian kecil Cina dan bahkan di masa lalu penduduk Amerika juga beternak ayam semacam ini. Kalau sering lihat film sejarah koboi kayak The Magnificent Seven atau Shaolin Kungfu yang dibintangi David Carradine, pasti menemui pola kehidupan para koboi yang beternak unggas seperti ayam dan kalkun dalam skala rumah tangga. Khusus di Indonesia pola beternak semacam ini sangat diminati oleh sebagian besar keluarga dari kalangan petani, peternak, guru, pedagang pasar dan bahkan nelayan. Begitu diminati karena sangat mudah dan hasilnya juga lumayan. Pakan yang diberikan cukup dari sisa-sisa makanan rumah, limbah hasil gilingan padi, rayap rumah, cacing, siput dan beberapa hewan kecil disekitar rumah. Dampaknya adalah setiap limbah makan rumah tangga hampir 100 % termanfaatkan kembali melalui unggas yang dipelihara disekitar rumah.
Jenis unggas yang biasa dipelihara pada jenis peternakan seperti ini antara lain ayam kampung, entog dan angsa. Ayam kampung atau ayam buras memiliki nilai jual karkas/daging yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan ayam potong ras, satu kilogram karkas ayam kampung sekitar Rp. 20.000-25.000,- pada waktu normal, tidak menjelang hari raya atau tahun baru. Sedangkan karkas ayam potong ras hanya berkisar pada Rp.12.000-14.000,- pada waktu normal. Rasa daging ayam kampung yang lembut, aromanya wangi dan warnanya khas kekuningan menjadikan daging ayam kampung memiliki segmen dan kelas konsumen tersendiri di beberapa restoran berbintang. Di Cina, ayam kampung adalah bagian dari bahan kuliner yang begitu digemari karena kelezatannya yang tiada tara, ya aku sendiri belum nyoba sih, he…he….
Namun dalam penilaian sebagian para ahli unggas, peternakan model ini rentan terhadap timbul dan penyebaran penyakit hewan menular. Alasan utama adalah mengenai lemahnya biosekuriti atau penjagaan ayam dari ancaman makhluk hidup mikro yang bersifat patogen. Berbeda dengan peternakan modern yang sudah menggunakan model kandang tertutup (closed house), manajemen pakan dan manajemen biosekuriti yang ketat dan modern. Baru-baru ini Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya dalam mengadakan seminar nasional bertopik”Bioteknologi Peternakan dan Family Poultry Farming : Pengembangan di Masa Mendatang”. Seminar tersebut juga membahas fenomena family poultry farming di Indonesia yang saat ini cukup besar. Panelis bernama Dr. L. Hardi Prasetya dari MIPI (Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia) dan Dr. Desianto B. Utomo dari PT. Charoend Phokpand Indonesia merekomendasikan untuk memperbaiki pola peternakan unggas skala rumah tangga yang cenderung melepas bebas ternaknya di alam sekitar. Hal demikian menurut mereka akan sangat rentan tertular penyakit seperti Flu Burung (AI) yang sampai saat ini telah menelan korban sekitar 64 orang dalam kurun waktu 2004-2008.
Aku sendiri berpikiran pendapat kedua ahli tersebut juga sangat relatif, coba diingat pada sekitar 2005-2006 peternakan unggas yang hancur akibat serangan virus Flu Burung adalah peternakan modern yang sudah menggunakan manajemen biosekuriti yang sangat ketat. Sedangkan peternakan ayam ala rumahan ibu-ibu tidak terkena wabah tersebut, kalaupun ada ya satu dua kasus saja. Oleh dosen saya Prof. Lukman Hakim, dikatakan bahwa ayam kampung yang banyak dipelihara masyarakat saat ini masih mewarisi sifat ayam hutan asli yang tahan terhadap penyakit.Namun langkah antisipasi dengan merubah cara beternak dari ayam lepas menjadi dikandangkan juga penting karena perkembangan virus patogen sangat cepat dan mudah beradaptasi. Tapi sekali lagi saya berpikiran jangan sampai karena ketakutan yang membabi buta terhadap virus Flu Burung, menyebabkan keinginan para Ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang murah bagi keluarganya, malah jadi keder sehingga banyak ayamnya yang dijual lagi atau langsung dipotong semuanya. Jika demikian yang terjadi, wah bisa-bisa pada akhirnya telur dan daging ayam kampung saja kita juga harus impor. Lagi…lagi….sedihnya….

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...